Sabtu, 09 Maret 2013

1 Pandangan Seorang Ulil Abshar Abdalla


Pemikiran-pemikiran Ulil adalah upaya reinterprestasi dan kontekstualisasi ajaran agama (Islam). Ulil menghindari pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci. Dia menggunakan filsafat untuk membedahnya sebagai metode berpikir kritikal. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas.

Kenapa sih umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan, padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta, tanpa pilih kasih. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang amat parah. Umat islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan, bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban.

Setiap orang dan kelompok mesti semuanya ingin dihargai. Kedepan ketika panggung sosial semakin terasa kecil karena jumlah penduduk bumi semakin banyak dan media komunikasi semakin canggih, kita mesti siap menghadapi keragaman bahasa, budaya, makanan, dan agama. Bahkan dalam komunitas agama yang sama masih akan muncul keragaman mazhab dan aliran. Semua ini sulit dihilangkan. Lagi-lagi, adalah utopia membayangkan dalam masyarakat hanya ada agama tunggal dengan mazhab tunggal.

Pada sisi lain, perjuangan awal Rasulallah Muhammad SAW selama dua puluh tahun pertama diutus sebagai rasul, banyak ditinggalkan oleh ulama dan umat. Jadi ayo dong, kenapa sih kajian keagamaan Ulil Abshar Abdalla jadi "menakutkan" beberapa pihak? Padahal alif itu sejuta makna, sejuta arti lho..


Disini saya tidak mengatakan Ulil pasti benar, saya hanya menghargai usaha dia memajukan Islam menjadi mampu menjawab tantangan jaman. Soal latar belakang, bukankah jelas dia anak santri mantunya KH.Mustofa Bisri sesepuh NU, bukan anak kemaren sore. Saya berharap Ulil bisa meneruskan khasanah pemikiran inklusivisme dan pluralisme Gus Dur dan Nurkholis Majid dkk dan menjadikan Indonesia berada di depan dalam pemikiran Islam paling maju. 

Tidak perlu resah dengan  tudingan antek Yahudi, antek barat, kufur, khianat, dan sebutan nama-nama binatang apapun. Allah SWT Maha Tahu siapa yang benar-benar ikhtiar menghidupkan inti ajaran Islam agar tetap hidup, dan siapa yang membela Islam demi kekuasaan, kedudukan, kemasyhuran, dan kemapanan takut kehilangan makmum atau pengikut.

http://chirpstory.com/li/59730
Sumber

0 Kekerasan Mengatasnamakan Agama


Beberapa tahun yang lalu marak terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Sepanjang sejarah, manusia mengalami perkembangan dan kemerosotan peradaban. Ketika mengalami kemerosotan peradaban, keruntuhan budaya, hilangnya daya pikir kritis kolektif masyarakat dan intelektual bangsa, bukan berarti sejarah berjalan mundur. Sejarah maju terus, manusianya yang naik turun dan maju mundur.

Bahwa agama dan ketuhanan bisa memperkenalkan etika dan moralitas tentu tidak disangsikan perannya sepanjang sejarah. Artikel ini hanya ingin mencoba menelusuri, bagian sebelah mana dari agama yang memungkinkan orang melakukan kekerasan atas namanya? Bukankah semua agama mengajarkan bagaimana cara hidup damai dan adil, tapi mengapa orang bisa menjadi penuh kekerasan dan jauh dari rasa keadilan atas nama agama?



Apa sebetulnya yang hendak dicapai dengan penggunaan kekerasan itu? Berhasilkah kekerasan mencapai tujuannya? Mana lebih efektif, efisien dan berhasil, menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan atau berdoa meminta bantuan Tuhan?


Tentu saya sepakat bahwa jauh lebih banyak umat beragama yang tidak melakukan kekerasan. Tapi jika ada yang bisa-bisanya melakukan kekerasan atas nama agama, ini perlu kita renungkan, yang salah di mana? Di agamanya itu sendiri? Penafsiran orang tersebut yang salah? Orang tersebut oknum? Mengapa ada banyak oknum dan banyak orang mendukung oknum? Apakah yang salah adalah metoda pengajaran agamanya. Juga pertanyaan filosofis sah ditanyakan di sini: Jika agama itu adalah jalan yang sempurna mengapa masih bisa disalahtafsirkan?

Saya justru melihat mereka yang melakukan pembantaian massal, mereka yang melakukan bom bunuh diri, mereka yang gemar melakukan kekerasan logikanya berantakan. Saya hanya ingin mengajak umat beragama yang gemar melakukan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap beraliran sesat agar bersabar saja dan menunggu tindakan langsung dari Tuhan. Percayalah Tuhan Maha Kuasa, kalau memang percaya Tuhan, jangan mengambil hak Tuhan untuk menghukum mereka yang sesat, karena pada akhirnya, hanya Tuhanlah yang tahu dan berhak menentukan siapa yang benar dan siapa yang sesat.

Yang saya harapkan tentu saja, bahkan dalam perbedaan yang paling tajam, bahkan dalam perdebatan yang paling sengit, kita tetap menjauhi kekerasan. Ini kelihatannya kecil. Tapi ini adalah langkah awal perdamaian menurut saya.
Perdamaian bukanlah ketika perbedaan tiada.
Perdamaian bukanlah ketika konflik punah.
Perdamaian adalah ketika perbedaan dan konflik diterima, dipahami, dan diselesaikan tanpa pertumpahan darah.
 

0 Logika Kebebasan yang Salah Kaprah


Masalah agama, sejujurnya saya tidak begitu mengerti agama, saya ke tempat suci agama apabila ada pernikahan atau kematian saja. Teman-teman saya di Eropa sering kali menghubungi saya untuk meminta penjelasan tentang agama, khususnya agama tertentu di Indonesia, teman saya mengatakan mereka tertarik dengan ketenangan dan kedamaian hati orang yang punya agama, tapi saya tidak tahu agama.

Jadi alangkah baiknya juga teman-teman jangan terlalu menyepelekan agama. Menurut saya agama punya konsep yg transenden tapi tidak mampu dijelaskan secara rasional, saya juga sudah mulai tertarik, makanya saya telah mengurangi seks bebas saya, karena jujur itu menyenangkan tapi tidak terlalu mendamaikan, apa yang saya cari dalam hidup ini? seks hanya seperti makan dan minum, kita akan makan dan minum hanya ketika kita lapar atau haus, tentu makan dan minum tidak mendamaikan jiwa dan itu hanya mendamaikan nafsu saja. Hal itu juga menjadi pertanyaan yang ditanyakan oleh teman Eropa saya, makanya sampai sekarang agama tetap bertahan kuat di Eropa, meski mereka athies. Dalam agama orang tua saya, Tuhan sudah memaafkan saya setelah mengakuiNya. Agama telah melampui ribuan tahun, mungkin agama telah melampui jutaan orang yang berpikir seperti saya dalam ribuan tahun juga.

Mari kita bayangkan ada hari telanjang bersama di Indonesia, bagi akal saya itu tidak ada salahnya, kecuali akal anda menyatakan itu salah, namun hal itu tidak berpengaruh kepada akal saya, karena akal anda mungkin tidak lebih baik dari akal saya. saya juga tidak terlalu paham agama, menurut saya agama masih ciptaan manusia. Walau saya akui seperti diatas ada hal-hal transeden yang saya tidak mengerti dari sana.

Kebebasan seks juga akan membuat bangsa ini senang, dan tidak perlu susah lagi mengatur masalah itu, saya juga menentang pernikahan, akal sehat kita mengatakan pernikahan adalah munafik, tidak baik bagi kemajuan manusia. Kita harusnya mencontoh kebebasan natural alam, seks seperti para hewan adalah kebebasan sejati, kita jangan dikekang dengan pernikahan yang hanya akan mengekang kita untuk berkreasi dalam seks, itu mengekang hak azasi kita. Tapi sampai sekarang saya masih gagal, masih ada gejolak dalam diri saya. Setelah selesai kuliah saya pulang ke tanah air, sampai beberapa tahun terakhir saya masih melakukan kebebasan itu, saya belum menikah sampai sekarang, menikah membuat saya takut, takut melihat teman-teman anak saya akan meniduri istri saya nanti, atau malah melihat anak saya nungging di belakang pintu mobil pacarnya. jadi saya memilih tidak menikah saja.

Seorang teman saya pencinta sesama jenis mengatakan dunia ini dipenuhi darah oleh perang akan karena perebutan lawan jenis, lihat saja cerita legenda terkenal Troy, atau di dalam negeri cerita perang antara Majapahit dan Padjajaran yang memperebutkan putri Pitaloka, teman saya berpendapat seharusnya konsep pecinta sesama jenis harus diterima dengan baik, karena itu akan mengurangi darah yang mengucur karena perang tersebut, bayangkan saya jika 80 persen penduduk dunia ini pencinta sesama jenis, maka akan terjadi kedamaian.

Dalam logika berpikir, sebaiknya kita jangan membatasi kebebasan itu dengan berbagai hal, misalkan Stalin ketika membunuh hampir 30 juta rakyatnya dengan berbagai cara, itu sungguh menjadi tragedi yang memilukan bagi kita semua, Stalin memang athies, sebagai bagian dari komunisme, Stalin punya logika tersendiri dalam mengatur kekuasaannya, punya konsep sendiri yang kita tidak mengerti bagaimana, kita tidak bisa menghukumnya sebagai seorang yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan, kita ingin menghakiminya dengan logika baik dan buruk dari kemanusiaan. Jika kita pahami lebih lanjut, kemanusiaan adalah konsep logika dari beberapa orang manusia yang ditawarkan kepada beberapa manusia lainnya sehingga dijadikan nilai bersama, apakah konsep kemanusiaan itu baik saya pikir itu relatif Kita tidak bisa menghakimi konsep logika orang lain, dan orang lain juga punya hak untuk memakai konsepnya sendiri, itu adalah bagian dari kebebesana yang kita agungkan. bagaimana kita bisa percaya kepada orang-orang yang telah mengkonsep rasa kemanusian? apakah mereka orang baik? mereka manusia yang sama seperti kita.

Hal ini juga berlagu bagi konsep HAM, tidak beda antara manusia dan binatang, binatang punya cara berpikirnya sendiri dan kita punya cara kita sendiri sebagai manusia, termasuk juga dalam hal ini tumbuhan juga mahluk hidup yang harus kita hormati.

Mengenai orang yang agnostik, teman saya sangat tidak senang dengan orang yang agnostik, dia menganggap orang agnostik adalah pengecut, munafik, opurtunis, dan tentu saja mereka bukan orang yang tulus, mereka ingin mencari keuntungan dari dua sisi yang berbeda, satu sisi ingin diterima dan bersenang-senang bersama orang athies, sisi yang lain dia menaman saham untuk dirinya sendiri, sehingga jika ternyata neraka itu ada, mereka masih punya satu persen saham untuk dijadikan jangan pengampuan, yaitu percaya adanya tuhan. Mereka adalah orang munafik, seperti benalu bermuka dua. Mereka berpikir lebih pintar dari pada Tuhan, orang agnostik bisa mengatur Tuhan, jika tuhan ada tuhan pasti mengutuknya. Jangankan Tuhan, saya sendiri saja tidak mau diatur oleh anak buah saya, tapi kita juga harus menghormati pilihan seseorang, saya menghormati agnostis, meski tetap hati-hati terhadap mereka.

Saya berharap anak muda penjujung kebebasan lebih berani untuk bebas, dia harus berani bereksperimen dan berkorban, ketika kita berani tidur dengan ibu teman kita, kita akan merasa semakin menyayangi teman kita karena kita seperti ayah bagi mereka, logikanya menjadi begitu menyenangkan. Ketika terjadi perang, para prajuit akan menjadi berdamai dengan seks bersama, hal-hal ini sangat kita nantikan, karena mungkin penjunjung kebebasan bisa lebih baik dari pada saya, bisa jadi dia akan jadi pahlawan bagi bangsa ini, mungkin menjadi nabi, kebebebasan seks bisa setara dengan agama sekarang ini. Kita juga harus menemukan hal-hal transeden dalam seks, bukan hanya seperti makan minum diatas tadi.

Kebudayaan barat sekarang sudah mulai rentan, kebebasan sedang menjadi jalan keluar, kita harus bahu membahu-bahu menemukan jawaban dari kebebasan kita, kita harus menemukan kedamaian dan kesenangan itu.

Cerita diatas adalah sebuah fiksi nyata yang dibalut narasi, tentang perjalan kisah hidup seorang wanita Indonesia selama dia menganut konsep kebebasan di Eropa.

Senin, 21 Januari 2013

0 Libris nominavi maiestatis duo at consectetur adipiscing elit id libero

template maskolis

Quisque nulla. Vestibulum libero nisl, porta vel, scelerisque eget, malesuada at, neque. Vivamus eget nibh. Etiam cursus leo vel metus. Nulla facilisi. Aenean nec eros. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Suspendisse sollicitudin velit sed leo. Ut pharetra augue nec augue. Nam elit magna, hendrerit sit amet, tincidunt ac, viverra sed, nulla. Donec porta diam eu massa. Quisque diam lorem, interdum vitae, dapibus ac, scelerisque vitae, pede. Donec eget tellus non erat lacinia fermentum. Donec in velit vel ipsum auctor pulvinar. Proin ullamcorper urna et felis.

Aliquam a nulla sapien. Sed facilisis ultricies purus, sed dapibus eros auctor vel. Phasellus et est nibh. Sed sagittis neque vel magna euismod ut vulputate sapien tempus. Fusce feugiat condimentum nulla. Aliquam quis convallis nunc. Nulla eu eros quam. Heading H1Suspendisse elementum tincidunt mi, non dictum nibh molestie a. In placerat rutrum felis, eu lacinia nunc eleifend vitae.

Heading

Heading h1

Heading h2

Heading h3

Heading h4

Heading h5
Heading h6


blockquote

Eu mei solum oporteat eleifend, libris nominavi maiestatis duo at, quod dissentiet vel te. Legere prompta impedit id eum. Te soleat vocibus luptatum sed, augue dicta populo est ad, et consul diceret officiis duo. Et duo primis nostrum.
Table Header 1Table Header 2Table Header 3
Division 1Division 2Division 3
Division 1Division 2Division 3
Division 1Division 2Division 3
  1. Lorem ipsum dolor sit amet
  2. Lorem ipsum dolor sit amet
  3. Lorem ipsum dolor sit amet
  4. Lorem ipsum dolor sit amet
  • Lorem ipsum dolor sit amet
  • Lorem ipsum dolor sit amet
  • Lorem ipsum dolor sit amet
  • Lorem ipsum dolor sit amet
goreng insum goreng insum goreng insum